Kita harus tahu the worse case atau celaka terburuk yang pernah ada dalam PLTN di dunia ini dan tentusaja Chernobyl. Ma’rufin seorang sarjana Fisika UGM ini sering ngobrol soal sains bercerita beberapa fakta Chernobyl yang perlu diketahui, secara sederhana saja.
“Pak Dhe, dikasi gambar-gambarnya ya biar menarik
”
Disebelah ini adalah foto lava cairan basement yang meleleh yang berasal dari ruang bahan bakar di reaktor Chernobyl.
# Ma’rufin menuliskan komentar tulisan PLTN -India :
Juli 12th, 2007 at 1:39 pm
Pertama, soal korban Chernobyl. Bener, korbannya memang hanya sekitar 60-an, dan itu pun akumulatif sejak 1986 - sekarang. Jadi tidak single-shot, sekali ‘tepuk’ langsung 60. Kalo korban aslinya, ketika kecelakaan itu terjadi, ‘hanya’ 2 orang, yakni para petugas likvidator (pemadam kebakaran Russia) yang berjibaku menghadapi kebakaran Chernobyl TANPA DIBERITAHU apa yang terjadi sehingga hanya mengenakan baju tipis saja dan masker standar.
“Pakdhe korban kecelakaan bis saja sekali jebret bisa puluhan looh dhe”
“Tapi harus diketahui juga ada angka menyebut hingga 6 juta yang terkena dampak. Sakjane ya dampak knalpot jakarta juga jutaan ya Tole, cuman membuat wahing-wahing … haaaatchu !
Jangan terpesona dengan angka besar ataupun kecil. Harus dilihat apa arti angka tersebut”
Kedua, seberapa lama dampak radiasi Chernobyl? Limbah nuklir produk fissil yang utama dan berpotensi paling berbahaya adalah Stronsium-90, Iodium-131 dan Cesium-137 (kalo tidak salah). Stronsium bisa menyubstitusi Kalsium sehingga suka mengendap di tulang, umur paro-nya 29 tahun. Iodium, sukanya ngendon di kelenjar thyroid dan punya umur paro cuman 8 hari (!). Cesium, juga hobi menggantikan peran Kalium/Natrium dalam tubuh makhluk hidup dan ia punya umur paro 30 tahun. Kalo dalam fisika, radioisotop dengan umur paling pendek justru yang paling berbahaya karena tingkat aktivitas jenisnya dan juga pelepasan energinya jauh lebih tinggi.
Dosis sinar gamma eksternal di Chernobyl telah menurun hingga 1/1000 kali dosis awal dalam 10.000 hari pasca bencana. Konsentrasi Stronsium dan Iodium dalam 10.000 hari pasca bencana juga sudah susut jauh hingga mendekati nol. Iodium dibiarin saja memang lenyap dengans endirinya, sementara Stronsium dibereskan dengan beragam teknik termasuk salah satunya adalah teknik fitoremediasi dan bioremediasi (terutama menggunakan varian Bunga Matahari), sehingga banyak kawasan yang ” 100 %” bebas dari ancaman Stronsium. Yang masih tersisa disana memang Cesium.
Memang, kalo bicara ideal, sampai kapanpun radioisotop akan tetap aktif dan memancarkan energinya. Namun dalam praktiknya digunakan pendapat umum, bahwa jika sebuah radioisotop telah melewati 2 kali waktu paro-nya, aktivitasnya boleh dikata sudah aman.
Ketiga, soal ‘meledak’. Ada yang perlu diluruskan disini. Reaktor Nuklir bukanlah bom nuklir yang terkendali, sehingga potensi meledaknya (akibat ledakan nuklir) sebenarnya tidak ada. Ledakan di Chernobyl terjadi akibat tekanan uap air yang luar biasa akibat penguapan brutal dengan terjadinya ekskursi nuklir. Ini disusul dengan ledakan hidrogen yang dibentuk dari reaksi grafit dan uap air panas. Seperti sudah saya tulis, Chernobyl adalah kasus anomalik, reaktornya sudah memiliki cacat bawaan, kemudian ditempatkan di bangunan yang sangat rapuh dan cilakanya operatornya ditekan oleh Partai Komunis saat itu. Ada juga gelagat kalo Chernobyl adalah reaktor sipil yang ketitipan untuk memproduksi Plutonium, jadi bebannya berat. Dan jangan lupa, teknologi Chernobyl (juga Three Mile Islands) adalah teknologi 4 dekade silam yang dalam dunia nuklir sendiri sudah tidak dipakai. Tidak bisa satu hal yang anomalik kemudian dipakai untuk melakukan generalisasi, meski dalam praktiknya di Indonesia hal itu sudah umum.
Sepakat 100 % jika dikatakan radioisotop itu berbahaya. Ini juga disepakati oleh para ahli nuklir. Makanya ketika mereka merancang PLTN, masalah pengelolaan bahan nuklir, limbah dan penyimpanannya menjadi hal yang utama sehingga di setiap lini aliran bahan bakar dan limbah PLTN (baik padat, cair maupun gas) selalu terdapat perangkat2 pengolahnya dan dijalankan dengan prosedur teramat ketat. Dalam perkembangan sekarang, selain double containment yang mengurung reaktor dalam kubah beton (dome) - bentuk yang secara geometri lebih tahan gempa dan benturan - disekeliling reaktor juga dibentuk zona eksklusi yang selain bebas pemukiman juga dihijaukan dengan tanaman2 khusus yang memang memiliki kemampuan menyerap radioisop dengan cepat ANDAIKATA terjadi kebocoran nuklir. Jika anda2 pernah merasakan susahnya menjalani training pengelolaan lingkungan versi ISO, yah semacam itulah prosedur ketat dalam pengelolaan limbah nuklir, karena dalam sejarahnya memang standarisasi ISO itu diturunkan dari alur proses pengelolaan limbah nuklir (dengan sedikit penyesuaian).
So, karena terlalu peduli soal limbah dan keamanan inilah yang membuat biaya pembangunan PLTN jadi membengkak. Di itung2 untuk membangun 1 PLTN sama dengan biaya untuk membangun dua unit PLTU. Dan karena ini pula harga listrik PLTN memang tidak murah. Meski, jika mau dibanding2kan, apabila PLTU juga diberi kewajiban mengolah limbahnya dengan sempurna seperti alur p[roses dalam PLTN (termasuk Uranium removal dalam batubara, yang dosisnya ternyata cukup besar), biayanya menjadi setara koq. Jadi titik persoalannya memang karena PLTN itu harus bersih dan perfect, makanya mahal.
“Kenapa kalau PLTN dituntut perfect yang lain tidak dituntut seperti PLTN ya pakdhe ?”
“Karena kita banyak tidak tahunya, dan yang nuntut itu kan yang tahu. Makanya kamu harus tahu supaya kalau takut karena memang tahu juga kalau tidak takut jangan tanpa dasar yang tepat, Tole”
“Kalo gitu suwun ilmunya, Om Ma’rufin“
Jika PLTN Muria bocor, memang, kata Australian National University, radiasinya bisa menyebar ke Australia dan mencemari seluruh ASEAN. Nah, persoalannya sekarang, apa kira2 faktor yang bsia menyebabkan PLTN ini bocor diluar kesalahan operasional (yang bisa diperbaiki dengan pelatihan dan pengetatan prosedur operasi) ?
Konon karena gempa, apalagi Pulau Jawa termasuk dalam margin lempeng Eurasia yang potensi goyangan gempanya cukup besar. Namun kalo kita liat peta distribusi hiposenter gempa dari USGS, selama 15 tahun terakhir ini tidak ada gempa dengan M > 3 skala Richter dengan episentrum di sekitar Muria. Sehingga USGS pun menempatkan kawasan Muria dan sekitarnya sebagai lokasi teraman di Jawa terhadap guncangan gempa (lokasi terawan justru pantura Jabar, Jakarta dan dataran tinggi Bandung) Memang Muria berdekatan dengan patahan besar RMKS (dari Rembang melintasi Madura dan Pulau Kangean) serta patahan transversal Jawa Tengah (yang menjadi tempat berdirinya gunung2 api Ungaran, Telomoyo, Merbabu dan Merapi), namun keduanya tidak aktif. Andaikata kasus terburuk terjadi, dimana transversal Jawa Tengah ini bangun lagi, dengan panjang patahan 400-an km (dari ujungnya di Semarang melintasi patahan Opak hingga ke lepas pantai Samudra Hindia) maka gempa maksimum yang bisa dibangkitkan adalah 8 Mw (alias 7,5 + skala Richter). Anggap saja episentrum gempa di bawah Gunung Ungaran, yang jaraknya 70-80an km dari tapak PLTN, maka dengan menggunakan model perambatan gelombang Gempa Yogya, intensitas guncangan di tapak PLTN maksimum sebesar 6 MMI, yang berpotensi menghasilkan kerusakan ringan-menengah pada bangunan yang buruk.
“Itukalau bangunan buruk emang ambleg ya dhe, tapi bukan berarti yang bangunan beton selalu tahan gempa kan dhe ? Wong gedung BPKP di Jogja ya roboh je”
Ma’rufin
pokoke harus dibangun itu pltn 